Bagi penduduk Jakarta, memasuki masa hujan tidak selamanya dianggap juga sebagai barokah & sumber kehidupan yg baik. Sebab hujan bagi Jakarta justru malah jadi momok menakutkan. Bahkan jadi kekhawatiran yg berlebihan bagi sebahagian agung penduduk Jakarta yg tinggal di wilayah dekat Sungai atau kali. Kenapa begitu?
Selagi dekade terakhir bahkan dalam rentang dikala satu abad terakhir, banjir & kisah Jakarta tidak sempat dapat dilepaskan. Dikarenakan dengan cara keadaan geografis saja, Jakarta itu bagaikan Kota Amsterdam & Rotterdam di Belanda. Lokasinya berada dibawah permukaan laut. Sehingga wajar saja bila telah sejak seabad dulu, air teramat gampang masuk & menggenangi wilayah tengah Kota. Limpahan air yg lebih gede sedikit saja volumenya kiriman dari wilayah hulu di Bogor & Puncak, Jawa Barat bakal jadi sumber ketakutan, sebab derasnya aliran air kiriman dari Bogor itulah banjir di Ibukota Jakarta bisa serentak menggenang pasca hujan berhenti.
Lantas dari beraneka sumber penyebab banjir Jakarta yg mampu disalahkan, apa sesungguhnya yg jadi masalah paling penting dari bencana banjir di Jakarta yg konsisten terulang sewaktu seabad terakhir?
Mantan Menteri Lingkungan Hidup, Balthasar Kambuaya sempat mengungkapkan satu factor bahwa kerusakan ekosistem di sepanjang aliran Sungai Ciliwung diprediksi jadi penyebab paling mutlak dari kasus banjir Jakarta. Kenapa begitu?
Selagi sekian abad dulu, Sungai Ciliwung telah jadi sumber kehidupan warga sepanjang aliran sungainya. Mulai Sejak dari Bogor sampai berhenti di Teluk Jakarta. Tapi sewaktu perjalanan pertumbuhan warga yg begitu sesak di wilayah Jakarta & Kota Komuter di lebih kurang Jakarta, sehingga ekosistem di sepanjang aliran Ciliwung serta semakin hancur tidak terkendali.
Tengok saja bagaimanakah keadaan sepanjang aliran Ciliwung hri ini. Business normalisasi sungai Cilwung yg digerakkan oleh Pemprov DKI Jakarta serta sepertinya cuma terjadi di sekian banyak titik wilayah Ciliwung yg padat warga & bahkan mendirikan bangunan liar di pinggirannya. Seperti di wilayah Kampung Pulo, Jakarta Timur.
Padahal kenyataanya Sungai Ciliwung mengalir panjang, & kerusakan wilayah bantaran Sungainya serta sudah menjalar jauh dari Hulu sampai Hilir Cilwung tidak dengan tidak hanya.
Permasalahan yg sekarang ini sedang dirundung oleh Sungai Ciliwung di antaranya yaitu masalah lahan kritis bersama erosi & sedimentasi tinggi, fluktuasi debit tinggi antara masa kemarau & penghujan. Bayangkan saja, beda debit air Sungai Ciliwung di masa kemarau & masa penghujan bahkan menembus angka lebih dari 300 kali lipat! Keadaan ini menandakan bahwa Daerah Aliran Sungai Ciliwung memang lah sungguh berada dalam keadaan sangat buruk.
Sehingga wajar saja, kalau tiap-tiap tahunnya bencana banjir di Jakarta senantiasa tetap berulang. Entah hingga kapan penduduk Jakarta menyadari & mulai sejak membenahi penyebab mutlak banjir di Kotanya, maka bukan lagi memangku tangan kepada bisnis Pemerintah Propinsi DKI Jakarta. (cal)
img : tribunnews
Sumber
Tidak ada komentar:
Posting Komentar