Senin, 23 November 2015

Banjir dan Kekeringan Dampak Air Tanah Yang Hilang

http://blog.act.id/wp-content/uploads/2015/11/penyebab-banjir.jpg 

Siapa yg mampu mengelak bahwa Indonesia negara yg mempunyai dua masa ini senantiasa berada di bawah bayang-bayang bencana alam yg ironisnya senantiasa berlangsung bergantian di dua msuim itu, ya bencana banjir & kekeringan telah semacam menjadi kebiasaan di Indonesia. Entah kenapa kekeringan & banjir senantiasa datang bersahutan. Seperti yg berulang di th ini, dikala kekeringan panjang menghantam Indonesia sejak Maret sampai Oktober 2015, setelah itu cepat disusul oleh risiko banjir di kota-kota gede macam Jakarta, Semarang, Bandung, Manado, & kota-kota komuter di lebih kurang Jakarta.

Jadi pertanyaan agung, apa sesungguhnya yg menjadi dikarenakan mutlak terulangnya bencana banjir & kekeringan di Indonesia tiap-tiap tahunnya? Pantas direnungkan lebih jauh bahwa salah satu penyebab rutinnya risiko banjir & kekeringan yg terulang tiap th adlah sebab ketiadaan atau hilagnya stok air tanah (green water). Macam Mana mampu begitu? Penjelasan ilmiah atas penyebab bencana banjir & kekeringan di Indonesia ini dikemukakan oleh Direktur Kehutanan & Konversi Sumber Daya Air Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Basah Hernowo seperti yg dilansir dari page CNN Indonesia.

Menurut Hernowo, dengan cara kajian ilmiah, tanah Indonesia yg demikian subur telah seharunya jadi barokah utk mencegah banjir & kekeringan, tapi apa yg berlangsung justru sebaliknya. Potensi kekeringan & banjir masih muncul. Sebabnya yaitu keberadaan air tanah (green water) yg makin kritis. Sekarang keberadaan air tanah di Indonesia telah tidak sebanding dgn jumlah air mengalir atau yg biasa dinamakan yang merupakan blue water. Padahal air yg tersimpan di dalam tanah telah terbukti bakal dipakai buat mencegah terjadinya kebakaran hutan & kekeringan panjang di periode kemarau, & mencegah meluapnya air jadi banjir di masa hujan.

Hernowo menjawab satu buah pertanyaan gede yg berkecamuk di kepala tiap penduduk Indonesia berkenaan satu buah kebimbangan “kenapa banjir & kekeringan berlangsung di Indonesia?”. Paparan Hernowo menuturkan bahwa penyebabnya ialah lantaran green water telah menghilang dari dalam tanah. Di Indonesia, daerah yg masihlah hijau keberadaan air tanahnya cuma di Papua & Kalimantan yg benar-benar populasinya amat jauh tidak sama di bandingkan Jawa.

Menurut data statistik yg dirilis oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, waktu ini keberadaan air tanah yg terpendam di dalam tanah Pulau Jawa cuma se gede 35 prosen saja. Padahal idelanya keperluan persentase air tanah bagi Pulau Jawa supaya tehindar dari bencana banjir & kekeringan setidaknya mesti ada banyaknya 64 % dari jumlah keseluruhan air yg turun kala periode hujan.

Imbasnya, diwaktu air tanah habis, sehingga pulau Jawa di masa kekeringan dapat makin kering & kesusahan air, sedangkan di periode hujan, air tanah tidak mampu terserap ke dalam tanah & beralih jadi bencana banjir.(cal)
img : techinasia.com
Sumber

3 Penyakit Khas Bencana Banjir

http://blog.act.id/wp-content/uploads/2015/11/penyakit-khas-banjir.jpg

Langit Indonesia mulai sejak ditutupi oleh awan mendung hujan yg teratur menyapa di tiap sore hri. Ya, barokah masa hujan yg telah sekian lama ditunggu juga sejak mulai tiba. Kemarau panjang yg mengambil derita sejak bln Maret sampai Oktober thn 2015 perlahan mulai sejak lenyap & berganti bersama periode hujan.

Tetapi masa hujan tidak senantiasa jadi barokah, di antara derasnya hujan serta terselip sekian banyak risiko penyakit yg mampu menyerang siapapun di masa hujan. Terutama bagi wilayah yg akrab dgn bencana banjir, seperti Jakarta & kota-kota komuter disekitar Jakarta. Dilansir dari Antaranews, Men Kes Nla F Moeloek memberikan himbauan terhadap penduduk utk senantiasa menjaga kesehatan saat periode hujan tiba, apalagi bila hujan deras yg turun beralih jadi bencana banjir.
Banjir ialah genangan air yg meluap menutupi jalanan & rumah-rumah masyarakat kala limpahan air datang tidak dengan sanggup ditampung oleh sungai. Seluruh orang mesti menyadari bahwa genangan air itu mengandung risiko berbahaya bagi kesehatan. Berikut yakni 3 penyakit khas bencana banjir yg tidak jarang berlangsung di periode penghujan :

Penyakit Leptospirosis

Penyakit ini barangkali telah tidak asing lagi di kalangan masyarakat Jakarta yg tidak jarang terendam banjir. Leptospirosis ialah penyakit yg disebabkan oleh bakteri yg dinamakan juga sebagai bakteri leptospira. Penyakit ini ditularkan oleh hewan pengerat, terutama tikus. Di wilayah Indonesia yg tidak jarang terendam banjir, Leptospirosis kebanyakan menular lewat kotoran & air kencing tikus. Kala masuk masa hujan & sebuah wilayah sejak mulai tergenang banjir, tikus-tikus dapat ikut ke luar dari sarang & berkeliaran di antara air banjir. Kotoran & kencingnya dapat terkontaminasi cepat dgn air banjir. Kalau ada kulit manusia yg terluka yg terendam banjir, mampu dijamin risiko leptospirosis ini dapat makin gede.

Penyakit diare

Penyakit diare ini telah sekian lama erat kaitannya dgn kebersihan diri atau individu. Waktu banjir merendam, pasti kebersihan bakal jadi prioritas No. dua. Akibatnya air minum & sumur dangkal dapat miliki potensi tercemar bakteri & kotoran dari banjir. Apalagi kalau di area pengungsian korban banjir, sarana sanitasi & pangan yg diberikan ala kadarnya, serba terbatas & minimnya ketersediaan air bersih. Aspek ini bakal semakin mempercepat potensi timbulnya penyakit diare kala banjir.

Penyakit demam berdarah

Demam berdarah yaitu penyakit yg disebabkan oleh ulah nyamuk Aedes Aegypti. Nyamuk kategori ini rata-rata semakin tidak sedikit populasinya di periode penghujan. Pasalnya kala masa hujan, dapat ada sangat banyak kaleng kaleng secon, ban secon, & ember-ember di dekat rumah yg terisi air hujan & membuahkan genangan. Genangan air inilah yg jadi lokasi berkembang biaknya nyamuk demam berdarah. Sehingga dari itu, bila masuk periode hujan lebih-lebih banjir, risiko tertular penyakit demam berdarah bakal serentak meningkat drastis. (cal)
img : Republika
Sumber

Rabu, 18 November 2015

Bidaracina Jakarta Mulai Banjir

Banjir Jakarta
Hujan sejak mulai deras mengguyur teratur Ibukota Jakarta, nyaris tiap-tiap harinya menjelang sore hri. Saat langit sejak mulai mendung, 11 juta warga Jakarta juga sejak mulai ketar ketir kepada ancaman banjir yg dapat datang kapanpun tidak dengan peringatan pada awal mulanya. Keadaan drainase & saluran air di Jakarta mampu dibilang telah teramat kacau. Upaya masif Pemerintah Kota DKI Jakarta diperkirakan serta tidak ingin sanggup mencegah banjir agung, pasalnya limpahan air hujan dari Bogor terkadang dapat meluap hingga tidak terkira derasnya.

Hasilnya, fakta serta bicara, meski sekian banyak ketika dulu Pemerintah DKI Jakarta telah mulai sejak melaksanakan normalisasi Sungai Ciliwung di lebih kurang kawasan Kampung Pulo, tapi konsisten saja wilayah disekitar Ciliwung & Jatinegara ini masihlah terendam banjir.
Dilaporkan dari page Act.id, air bah kiriman hujan deras yg berlangsung di Bogor terhadap Senin (16/11) tempo hari sudah meluapkan Air Sungai Ciliwung. Imbasnya kawasan di hilir Sungai Ciliwung kira kira Bidaracina, Cililitan, & Bukit Duri serta terendam. Ke3 wilayah ini lokasinya benar-benar berada serasi di tepi aliran sungai Ciliwung.

Mengantisipasi bisa saja banjir kawasan Bidaracina semakin memburuk, tim rescue dari Tindakan Serta-merta Tanggap serta mengemukakan siaga 1 utk laksanakan tindakan evakuasi masyarakat kalau benar-benar dipakai. Sementara ini sampai tulisan ini diturunkan, dua group rescue yg telah berpengalaman panjang dalam urusan banjir Jakarta telah siap siaga di ruangan rawan banjir Bidaracina bersama dua perahu karet.

Komandan Tim Rescue ACT Anang Herdiana mengemukakan pihaknya sudah dapat mengidentifikasi titik-titik rawan banjir di Jakarta, maka kesiapsiagaan buat antisipasi resiko negatif periode hujan th ini sanggup lebih diminimalisir.

Biarpun memang lah banjir di Bidaracina terhadap Senin tengah malam dulu belum terlampaui parah, tapi evakuasi penduduk terus mesti dilakukan, pasalnya air naik nyaris setengah m ke perumahan masyarakat di Bidaracina. Penduduk yg tidak mempunyai rumah berlantai dua mesti dievakuasi ke ruang yg lebih tinggi.

Menyikapi bisa jadi banjir Jakarta yg makin jelang puncaknya, Penduduk Relawan Indonesia (MRI) Jakarta Raya sudah siap siaga hadapi dampak bencana di periode penghujan. Tidak Hanya menciptakan Posko Siaga Bencana di jumlahnya titik di Jakarta, MRI menetapkan seperti di tahun-tahun pada awal mulanya bahwa kantor Tindakan Langsung Tanggap di Ciputat jadi Posko Induk Siaga Bencana.

Muhammad Affan, Ketua MRI Jakarta Raya mengungkapkan disaat ini timnya dgn ACT dalam fase awal kesiapsiagaan bencana banjir. “Sekarang seluruh koordinator daerah MRI yg ada di Jakarta & sekitarnya, sedang jalankan pendataan awal terkait titik banjir, yg setelah itu dapat menetapkan posko arena lapang pas dgn daerah yg terdampak bencana banjir. Sedangkan posko Induk buat Pos Komando Jakarta Raya bakal dilokasikan di Kantor ACT Ciputat,” jelas Affan, Rabu (18/11).
Affan mengemukakan 10 relawan sudah ditunjuk sbg koordinator Tim Siaga Bencana, yg dapat mengkoordinir lebih kurang 300 relawan MRI. (cal)

Cara Pemerintah Antisipasi Banjir dan Longsor Indonesia

bencana-banjir-indonesia
Masa datang silih berganti. Usai melepaskan derita masa kemarau panjang yg menyesakkan tidak dengan air sewaktu berbulan-bulan, saat ini nyaris semua wilayah di Indonesia telah sejak mulai memasuki awalan dari masa hujan. Prediksi Tubuh Meterologi, Klimatologi, & Geofisika menyebut bisa jadi hujan deras bakal mengguyur teratur merata di seluruhnya Indonesia sejak mulai akhir Nopember sampai puncaknya di lebih kurang Januari-Februari th depan.
Berbicara mengenai hujan deras, negara ini punyai catatan panjang mengenai bencana tanah longsor & banjir yg menghantam tidak sedikit wilayah. Seakan telah menjadi pelengkap diwaktu masa hujan, banjir & longsor ingin tidak ingin, senang tidak menyukai, tentu punyai potensi akbar nyaris di seluruhnya propinsi di Indonesia.
Pertanyaannya setelah itu, telah siapkan Kita menghadapi bisa saja banjir & longsor di periode hujan thn 2015-2016 ini?
Adakah antisipasi pemerintah buat mengurangi risiko banjir & longsor?
Dikutip dari pemberitaan Antaranews, pemerintah ternyata telah menyiapkan tidak sedikit upaya buat mengantisipasi bencana banjir & longsor yg potensial di area rawan bencana Indonesia. Menurut paparan Kepala Pusat Data Info & Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta, Selasa (17/11) Perbuatan Nasional utk mencegah risiko bencana banjir & tanah longsor telah disiapkan oleh pemerintah buat thn 2015 hingga 2016 akan datang.
Sebelum masa hujan datang makin teratur & makin deras, Kementerian Koordinator bagian Pembangunan Manusia & Kebudayaan (Kemenko PK) serta telah berinisiatif membicarakan risiko bencana banjir & longsor ini melalui koordinasi tingkat kementerian, Instansi, & kepala daerah.
Apa saja trick pemerintah Indonesia buat mengurangi resiko bencana banjir & longsor?
Salah satu yg sedang diupayakan ialah sosialisasi risiko banjir & longsor di tingkat pusat & daerah-daerah yg potensial dapat banjir & longsor.
Wilayah rawan banjir di antaranya ja-bar, Jakarta, Semarang, Kudus, Demak, Manado, & beraneka ragam kota yang lain bakal jadi prioritas pengurangan risiko banjir berdasarkan catatan kebencanaan tahun-tahun diawal mulanya.
Sutopo serta menyambung bakal menyiapkan & menginventarisasi sumberdaya yg dipunyai oleh masing-masing dinas & memenuhi kekurangan logistik & peralatan.
Terhadap intinya, bencana banjir & tanah longsor ialah tipe bencana alam yg “slow on set” artinya ke-2 type bencana ini berjalan bersama lambat & perlahan. Prediksi & tanda-tandanya bakal bersama enteng ditemukan & dipahami tidak dengan butuh kajian ilmu wawasan & alat-alat mutahir.
Sehingga dari itu, kesiapsiagaan bencana banjir mutlak buat jadi prioritas, jikalau sebab banjir saja negara ini telah kalang kabut, macam mana jikalau sebuah waktu kelak timbul kembali bencana gede macam tsunami 2004 silam? Bukan jadi bahan ancaman, tapi jadi refleksi nyata bagi kesiapan penanggulangan risiko bencana di negara ini.
Melansir dari catatan Antaranews, Berdasarkan peta bencana di Indonesia terdapat 315 kabupaten/kota yg berada di daerah bahaya sedang-tinggi dari banjir dgn jumlah masyarakat 61 juta jiwa di daerah tersebut. Sedangkan utk bencana longsor ada 274 kabupaten/kota yg berada di daerah bahaya sedang-tinggi dari longsor dgn jumlah warga 40,9 juta jiwa di daerah tersebut. (cal)
img : Tempo.co
Sumber

Selasa, 17 November 2015

Kesiapan Sistem Peringatan Dini Bencana Banjir dan Tanah Longsor di Indonesia

peringatan-dini-bencana-banjir
Periode kemarau panjang thn 2015 telah terlewat, waktu ini nyaris semua wilayah Indonesia telah berada di ujung pintu fenomena hujan deras & bahkan badai dari pagi sampai sore hri. Diwaktu berkata berkenaan potensi hujan deras & badai, bayangan yg segera terbersit di kepala merupakan ancaman bencana banjir & tanah longsor. Terhadap kenyataannya, negara ini memang lah masihlah prematur buat mengantisipasi bencana yg datang silih berganti. Usai melintasi kekeringan parah dikarenakan kemarau panjang, sekarang menghadang potensi banjir & tanah longsor. Dataran tinggi terancam longsor, dataran rendah terancam limpahan banjir. Komplit telah derita yg tampak di depan mata.
Lantas bagaimanakah sesungguhnya kesiapan system peringatan dini bencana banjir & tanah longsor di Indonesia? Ringkasan terkini dirilis oleh Kepala Tubuh Nasional Penanggulangan Bencana (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) Willem Rampangilei menegaskan bahwa setuju atau tak, kenyataannya memang lah system peringatan dini banjir & longsor di Indoenesia masihlah teramat minim & mengkhawatirkan.
Kenapa sanggup begitu?
Dilansir dari laporan CNN Indonesia, status timpangnya kesipaan system peringatan dini banjir & tanah longsor di Indonesia bukanlah omong kosong tidak dengan bukti data. Pasalnya, menurut catatan & identifikasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana dengan cara menyeluruh di seluruhnya Indonesia, jumlah Kab yg rawan banjir & tanah longsor di Indonesia hri ini berjumlah sejumlah 279 Kabupaten/Kota. Sedangkan instalasi system peringatan dini kepada banjir & longsor di masa hujan thn 2015 ini baru ada jumlahnya 42 kabupaten/kota. Jumlah yg amat sangat minim, bahkan tidak lebih dari 20%.
Apa yg jadi argumen system peringatan dini banjir & longsor belum betul-betul disiapkan merata di seluruhnya Indonesia? Tidak Sedikit rintangan yg menghadang. Menurut paparan Willem, satu factor yg jadi kesusahan penting ialah lantaran masing-masing daerah Kabupaten/Kota di Indonesia miliki karakteristik wilayah yg berbeda-beda. Tidak sanggup disamakan potensi banjir & longsornya dgn daerah lain.
Contohnya ada daerah di Indonesia yg punyai potensi bencana longsor yg lebih tidak sedikit ketimbang bencana banjir, begitupun sebaliknya. Miliki potensi banjir yg lebih tidak sedikit ketimbang longsor. Bahkan Ada juga daerah yg potensi longsornya tiba-tiba meningkat drastis sesudah melintasi periode kemarau panjang ini lantaran menciptakan tanah kering & enteng longsor demikian terkena air hujan dalam intensitas yg gede. Sehingga dari itu, butuh analisis panjang yg dilakukan buat melaksanakan identifikasi kerentanan bahaya bencana. Pendistribusian dana & sumber daya utk pencegahan bencana longsor & banjir tidak sanggup disamaratakan.
Berdasarkan data yg dikutip semua dari laporan CNN Indonesia, sampai Agustus 2015 terdapat 375 kejadian banjir dgn sebanyak kerugian, di antaranya : 25 jiwa wafat, 606.655 jiwa mengungsi, 437 satuan rumah rusak berat, 15 satuan sarana kesehatan rusak, 51 satuan sarana ibadah rusak, & 166 satuan sarana pendidikan rusak.(cal)
img : viva
Sumber

Wilayah Jakarta yang Terendam Banjir di Bulan November 2015

http://blog.act.id/wp-content/uploads/2015/11/wilayah-rawan-banjir-jakarta.jpg

Awan mendung pekat & gede mulai sejak jadi tradisi yg menutupi langit Ibukota Jakarta dalam sekian banyak hri terakhir. Sejak memasuki minggu ke-2 bln Nopember 2015 ini, Kota Jakarta & kota-kota suporter di sekitarnya, adalah Bogor, Depok, Tangerang, & Bekasi serta sejak mulai teratur diguyur hujan deras tiap harinya.
Bila Jakarta & kota komuter di sekitarnya diguyur hujan deras, satu ancaman yg paling menempel di benak penduduk Jakarta yakni ancaman bencana banjir. Jakarta & banjir yakni seperti dua factor yg tidak dapat dipisahkan. Buruknya drainase & hancurnya keadaan aliran sungai yg mengalir membelah Kota Jakarta yakni penyebab bencana banjir Jakarta tetap mengintimidasi tiap tahunnya kala periode hujan mulai sejak mengguyur.
Pekan sore (15/11) tempo hari, hujan sangar deras yg membasahi wilayah Bogor & Puncak menyebabkan aliran air limpahan dari hulu sungai Ciliwung mengalir amat sangat deras. Keadaan Siaga 1 banjir pula ditetapkan oleh pihak terkait yg mengontrol tinggi air di bendungan Katulampa.
Diwaktu air deras mengalir ke arah hilir di Teluk Jakarta, area bantaran sungai Ciliwung bakal berpotensi meluap & menyebabkan banjir di banyaknya titik.
Area mana saja di wilayah Jakarta yg terendam banjir selagi Bln Nopember 2015 ini?
Dikutip dari CNN Indonesia, Tubuh Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta launcing data terakhir wilayah Jakarta yg telah terendam banjir, merupakan Kelurahan Pejaten Timur, Kelurahan Rawajati, & tempat depan Pasar Induk Keramat Jati, Jakarta Timur tergenang banjir dgn ketinggian 50-60 sentimeter.
diluar itu, banjir Jakarta serta mulai sejak merendam wilayah depan Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. wilayah depan pasar Kramat Jati berada persis disebelah aliran sungai Ciliwung. BPBD DKI pun melaporkan banjir menggenangi persimpangan Hex di Jalan Raya Bogor, sebab jebolnya pintu air di tempat tersebut.
Banjir yg telah menggenangi wilayah Jakarta di awal bln Nopember 2015 ini seperti prediksi awal bahwa wilayah sepanjang bantaran Sungai Ciliwung dapat jadi ruangan penting direndam banjir. Terpaan banjir berada tepan di sepanjang aliran sungai Ciliwung yg berhilir di Teluk Jakarta.
Bila hujan mulai sejak menderas lagi di sore hri, sehingga Tinggi Muka Air di sebanyak bendungan di Jakarta segera bakal meningkat kembali. Catatan terakhir yg dirilis dari website BPBD DKI Jakarta menyatakan tinggi air di Pintu Air Depok 85 senti meter atau Siaga IV, tinggi air Pintu Air Manggarai 690 centi meter atau Siaga IV, tinggi air Pintu Air Karet 360 centimeter atau Siaga IV, & tinggi air Pintu Air Pesanggaran 130 centi meter atau Siaga IV. (cal)
img : liputan6.com
Sumber

Rabu, 11 November 2015

Bahaya Leptospirosis Saat Jakarta Terendam Banjir

Bahaya Leoptospirosis 
 
Periode hujan telah datang, kemarau panjang hasilnya berhenti perlahan. Sekarang Ini, bln Nopember 2015, pas bersama prediksi awal bahwa sebahagian gede Indonesia sedang memasuki fase awal masa hujan. Memang Lah, awan hujan yg datang belum terlampaui merata, tetapi hujan yg datang lebih sering mengambil petir & badai yg bersahutan, sampai kepada hasilnya hujan deras yg tidak bisa tertampung itu beralih jadi bencana banjir, seperti yg teratur menyapa penduduk Ibukota Jakarta.

Menanggapi potensi banjir yg bakal datang seiring bersama peningkatan kesempatan hujan deras di Jakarta & kota-kota gede yang lain, Menteri Kesehatan Nila Moeloek memberikan imbauan utama kepada penduduk, seperti yg diberitakan oleh page Antaranews. Imbauan dari Menteri Nila yakni konsisten menjaga kesehatan diwaktu masa hujan tiba. Khususnya bagi penduduk yg wilayah pemukimannya jadi langganan banjir. Imbauan Nila ini bukan jadi omongan kosong, dikarenakan kenyataannya penyakit masa hujan tidak senantiasa menyangkut dgn flu, demam & penyakit sebab cuaca dingin & hujan yang lain. Ada bahaya lain yg mengintai di balik periode hujan & banjir.

Satu pesan dari Menteri Nila terutama ditekankan kepada mencegah anak-anak buat main-main bersama air banjir, menyelupkan badannya bahkan kepalanya ke dalam air banjir. Kenapa begitu?
Menurut Nila, kadang-kadang para orang lanjut usia malah menyaksikan lucu & hasilnya memberikan peluang terhadap anak-anak buat main bersama air banjir. Berenang kesana kemari di antara air banjir depan rumah, atau air banjir yg menggenang di jalan raya pasca hujan deras. Padahal, bahaya dari berendam di air banjir sangat banyak. Satu faktor yg paling nyata yaitu bahaya penyakit Leptospirosis.

Dengan Cara medis, penyakit Leptospirosis yakni penyakit yg disebabkan oleh bakteri leptospira, penyakit ini yakni salah satu penyakit yg berjenis zoonosis, artinya penyakit yg ditularkan lewat hewan.

Nah, di antara masa hujan yg deras & genangan air banjir, hewan penular penting dari penyakit Leptospirosis ini yakni tikus lewat kotoran & air kencingnya. Saat periode hujan datang & mengambil banjir di sekian banyak ruangan di Jakarta, tikus-tikus yg tinggal di dalam liang tanah tentu dapat ke luar dari sarangnya utk menyelamatkan diri. Nah tikus itu dapat berkeliaran di antara genangan banjir, & air kencing pun kotorannya bakal bercampur baur dgn air banjir.

Kala anak-anak malah asyik menjadikan banjir Jakarta sbg rekreasi murah meriah, sehingga disitulah bahaya Leptospirosis berjalan. Seseorang manusia baik orang dewasa ataupun anak-anak yg mempunyai luka terbuka di badannya, seterusnya luka tersebut terendam air banjir yg telah tercampur dgn kotoran/kencing tikus yg mengandung bakteri lepstopira, sehingga disitulah ancaman infeksi otoran/kencing tikus yg mengandung bakteri Leptospirosis berlangsung. (cal)
img : Kompasiana
Sumber