Suatu kenyataan unik tapi ironis berjalan di Propinsi paling barat Indonesia. Kala sebahagian agung wilayah Sumatera dikepung oleh derita kekeringan & kebakaran hutan, ditambah lagi dgn kepungan kabut asap yg tidak ada henti, justru Propinsi Nangroe Aceh Darussalam diterjang banjir. Sebuah kenyataan yg susah dinalar dikarenakan ternyata, nyaris seluruhnya wilayah Indonesia di bln September ini masihlah dalam suasana periode kemarau panjang.
Tetapi bencana banjir nyata-nyatanya betul-betul berjalan di Aceh. Dilaporkan dari page Mongabay, ribuan rumah masyarakat di Kab Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tamiang, & Kota Langsa dihantam oleh terjangan banjir bandang akibat meluapnya sebanyak ruas sungai yg melintasi wilayah tersebut. Akibat luapan sungai di wilayah Aceh direndam banjir paling parah berjalan di Aceh Utara. Sejak akhir bln September 2015 dulu, banjir bandang merendam sebahagian agung rumah & lahan pertanian masyarakat di Kecamatan Lhoksukon, Matangkuli, Cot Girek, & Pirak Timu.
Mirisnya lagi, bencana banjir di Aceh dalam setahun sanggup berlangsung tiga sampai empat kali. Tidak cuma merendam rumah, beberapa ratus hektare sawah & pertanian milik penduduk tidak sukses panen. Bencana banjir ini jadi cobaan ke-2 bagi para petani, sesudah diawal mulanya tidak berhasil panen akibat kemarau, sekarang pertanian kembali tidak berhasil panen lagi dikarenakan bencana banjir merendam aceh. Dikutip dari Mongabay, ketinggian air setinggi 50 – 100 centi meter.
Lantas, apa sesungguhnya yg jadi penyebab dari bencana banjir Aceh ini? Berikut yaitu 3 argumen kenapa di periode kemarau ini justru bencana banjir malah merendam wilayah Aceh :
Banjir yg berlangsung di Aceh merupakan akibat dari maraknya pembukaan hutan
Berdasarkan penjelasan dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Aceh, segala macam bencana alam berupa banjir, tanah longsor, ataupun kekeringan yg melanda Aceh merupakan akibat maraknya pembukaan hutan. Menurut catatan Walhi, Aceh yaitu salah satu daerah di Indonesia yg mengalami kerusakan hutan lumayan parah. Hutan di buka tidak dengan kendali sampai menyebabkan sumber penampungan air menghilang. Akibatnya kalau hujan sedikit saja air dari sungai bakal meluap & menggenangi tidak sedikit wilayah, dulu saat tiada hujan tatkala berminggu-minsggu, sehingga dapat cepat memicu kekeringan. Sampai hri ini, Walhi masihlah mengkritik tidak adanya kebijakan yg berpihak terhadap penataan kembali bagian kehutanan.
Banjir di Aceh berjalan akibat metode pembangunan yg tak ramah lingkungan
Satu kritikan lagi utk Pemerintah Aceh dalam kasus banjir di Aceh yakni minimnya aturan yg efektif dalam metode pembangunan. Penanganan pada bencana banjir di Aceh tidak dipikirkan dengan cara matang. Biaya yg gede, tenaga yg tidak sedikit, & resiko psikologis pasca terjadinya bencana banjir di Aceh tidak senantiasa dipikirkan matang oleh Pemerintah Aceh.
(cal) img : mongabay.com
Sumber